;ay
aku menghimpun masa lalumu
menyusunnya menjadi kitab suci dari segala suci
masa lalu kita, hari kemarin di sebuah ciuman pinggir jalan
sehingga malam yang minggu ini
tak ada aku dipesan pendekmu
ada yang berbisik pada tanah
ada yang dititipkan pada tandus dan becekan-becekan
masa lalu itu kini berubah kenangan
berkatalah, ini adalah kemauan ruh wingit yang kau puja
sedang aku belajar menerima dan bertatakrama
adakah esok adalah kenangan?
lelaki yang pernah kau cintai ini tak tahu
tentang esok yang akan jadi hari kamarin
dan kitab yang kususun ini ada banyak bukti
bahwa esok itu adalah kenangan
(06.42;12 Jogja)
(Pekebun)
